|
|
Oleh: Abdul Mun’im
Gerhana matahari maupun bulan merupakan sunnatullah untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Pada zaman Nabi SAW telah terjadi satu kali gerhana matahari, bertepatan dengan meninggalnya putra beliau Ibrahim. Masyarakat jahiliyah kemudian menafsirkan bahwa gerhana terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang yang berkedudukan tinggi. Padahal ini merupakan takdir Allah SWT dan tidak ada kaitannya dengan kejadian apapun di muka bumi. Firman Allah SWT dalam surat Yunus: 5 yang artinya : “Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) bagi orang-orang yang bertakwa.”
Saudara-saudaraku, sesungguhnya banyak hikmah yang dapat kita diambil dari sunnatullah tersebut bagi peningkatan kualitas kehidupan kita, terutama bagi kaum Muslimin, antara lain :
Pertama: menguatkan aqidah atau keimanan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebagai Muslim yang meyakini Kemaha Kuasaan Allah SWT, peristiwa gerhana akan lebih mempertebal keimanan dan ketauhidan kita kepada-Nya. Bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini semata-mata berdasarkan qudrat dan iradat-Nya yang tunduk kepada Sunnatullah. keduanya merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang menciptakan alam semesta ini, menguasainya, serta mengaturnya. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya ketika berkehendak untuk merubah aturan alam diluar kebiasaan, untuk menunjukkan betapa lemahnya manusia dan betapa agungnya Allah SWT, maka manusia tidak layak untuk menyombongkan diri di hadapan-Nya, jadi sepantasnya manusia tunduk patuh kepada peraturan dan hukum Allah SWT tidak kepada yang lain.
Kedua: merupakan kehendak Allah SWT untuk menakuti hamba-hambanya dengan mengingatkan mereka dari kelalaian dan dosa. Di mana dengan bertambahnya fitnah dan kerusakan di muka bumi yang disebabkan tingkah laku manusia, maka terjadinya gerhana ini karena Allah SWT hendak menyadarkan mereka.
Ketiga: bahwa kejadian-kejadian alam tidak ada hubungannya dengan kematian atau lahirnya seseorang, karena jika Allah SWT berkehendak menjadikan sesuatu, maka terjadilah. Jadi murni karena kehendak Allah, dan barangsiapa meyakini bahwa gerhana ada kaitannya dengan kematian dan lahirnya seseorang, maka dia telah menetapkan adanya pengatur alam semesta selain Allah SWT.
Keempat: membina ibadah. Peristiwa gerhana hendaknya dijadikan momentum untuk membina ibadah dalam rangka memelihara hubungan dengan Allah SWT. Hal tersebut ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw dari Aisyah ra : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya. Berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bersholatlah.”
Berdasarkan hadits tersebut maka momentum terjadinya gerhana agar digunakan untuk memelihara hubungan dengan Allah swt berupa; do’a, dan shalat. Sedang hubungan dengan sesama manusia berupa sedekah.
Jumhur ulama Fiqh telah sepakat bahwa shalat gerhana matahari (shalat kusuf) dan shalat gerhana bulan (shalat khusuf) hukumnya sunnah muakkadah. Dua rakaat, tiap rakaat dua kali baca fatihah dua kali baca surat, dua kali ruku dan dua kali sujud.
Dengan melaksanakan shalat, ruku dan sujud ketika terjadinya gerhana, tidak berarti seorang Muslim menyembah matahari atau bulan, namun semata-mata hanya bersujud kepada Allah yang telah menciptakan matahari dan bulan, sebagaimana dinyatakan dalam surat Fushshilat: 37 : “janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya kepadaNya saja menyembah.” Wallahu a’lam bish showab.
oleh : KH.Drs. Abdul Fattah Yasran.
Berdasarkan perhitungan falak, yang biasa kita kenal dengan ilmu hisab, Insya Allah akan terjadi gerhana matahari pada hari Jum`at, 29 Muharram 1431 H (15 Januari 2010 M). Gerhana ini apabila tidak mendung akan terlihat di wilayah Indonesia bagian barat, dan sebagian besar wilayah Indonesia bagian tengah. Gerhana matahari ini tidak total, hanya sebagian dari matahari. Akan tampak di Pekalongan diperkirakan sekitar pukul 14:34 WIB dan berakhir pada pukul 15:38 WIB. Kejadian ini kejadian yang biasa, kejadian alam yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT (Jangan ditafsiri yang tidak baik).
Gerhana matahari terjadi karena sinar matahari yang biasa sampai ke bumi yang kita tempati terhalang oleh bulan, sehingga kita tidak melihat matahari secara sempurna bulat, tapi krowak, sinarnya sampai ke bumi juga tidak sempurna seperti mendung. Apa yang perlu kita lakukan sebagai umat Islam, apabila kita mengetahui terjadinya gerhana matahari? Nabi kita Rasulullah Muhammad saw sebagai panutan kita, memberikan tuntunan agar kita dianjurkan melakukan sholat kusuuf.
Artinya : Nabi Muhammad SAW bersabda ”Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya menjadi tanda kekuasanNya. Kedua gerhana tersebut bukan karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang, maka apabila kamu lihat keduanya, hendaklah kamu panjatkan doa` kepada Allah SWT, dan sholatlah sampai habis gerhana itu.
Adapun caranya/kaifiyahnya ada beberapa kemungkinan:
1. Seperti sholat sunnah biasa dua rokaat diniati pada waktu takbirotul Ihrom dalam hati “Usholli sunnatan likusuufi rok`ataini lillahi ta`ala” atau terjemahannya “saya niat sholat karena gerhana matahari untuk Allah Taala”. Cara semacam ini biasanya dilakukan di rumah sendirian tidak berjama`ah.
2. Dilakukan dengan berjama`ah di masjid, sholat dilakukan dua roka`at, tiap rokaat dua ruku, dan dua sujud.
- Roka`at pertama, dimulai dengan takbirotul Ihrom, dan niat dalam hati seperti pada nomor 1 ditambah ma`muman (bagi ma`mum), kemudian membaca surat Al-Fatikhah (termasuk basmalah), kemudian mendengarkan bacaan imam, kemudian mengikuti imam ruku` kemudian mengikuti imam bangun dari ruku` (sami’ Allahu liman khamidah, rabbana lakalkhamdu dst), setelah berdiri membaca fatikhah, kemudian mendengarkan bacaan imam, kemudian mengikuti ruku` kemudian i`tidal dengan membaca sami`Allahu liman khamidah. Robbana lakalkhamdu dan seterusnya seperti sholat yang lain.
- Rokaat yang kedua seperti roka`at pertama yaitu: Membaca Al-Fatikhah (termasuk basmalah), kemudian mendengarkan bacaan imam, kemudian mengikuti imam ruku` kemudian mengikuti imam bangun dari ruku`, setelah berdiri membaca fatikhah, kemudian mendengarkan bacaan imam,kemudian mengikuti ruku` kemudian i`tidal dengan membaca sami`Allahu liman khamidah. Robbana lakalkhamdu dan seterusnya seperti sholat yang lain.
Setelah sholat selesai dengan dua roka`at, tiap rokaat dua fatikhah, dua ruku` dan dua sujud dan setelah salam dilanjutkan dengan khutbah seperti halnya khutbah ied.
Cara inilah yang akan kita pakai pada pelaksanaan sholat kusuuf di Masjid Agung Al-Jami’ Kota Pekalongan.
3. Seperti nomor dua, tapi bacaan imam setelah Al-Fatikah panjang sekali, sampai sepanjang surat Al-Baqarah, begitu pula ruku` dan sujudnya panjang, dan riwayat lain ada yang menyebutkan sampai delapan rokaat.
Waktu pelaksanan sholat gerhana bisa dimulai pada waktu mulai terjadi gerhana dan habis waktunya pada waktu selesai gerhananya.
Dikisahkan oleh Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Fattah Al-Harowiy, beliau berkata: Suatu hari Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ra melihat sekilas cahaya agung yang terang benderang. Cahaya itu menyerupai suara tanpa rupa. Suara itu berkata kepada Syaikh Abdul Qodir ra : “Ya Syaikh Abdul Qodir, aku adalah tuhanmu dan telah aku halalkan untukmu segala yang diharamkan.”
Syaikh Abdul Qodir ra faham bahwa suara itu adalah syaitan. Kemudian beliau langsung membaca ta’awudz (‘Auudzubillaahi minasysyaithaanirrajiim) serta menggertak “Ikhsa’ yaa La’iin” (Celakalah engkau, hai syaithan yang dilaknat Allah).
Tiba-tiba cahaya yang tadinya terang benderang seketika itu langsung menjadi gelap dan menjadi asap tebal yang lari terbirit-birit karena kepanasan. Syaithan itupun berkata : “Wahai Abdul Qodir, sesungguhnya kamu telah selamat dari godaan tipu dayaku, dikarenakan kamu mengerti hukum Allah dan faham dalam menguatkan tingkatan yang engkau miliki. Sesungguhnya aku telah berhasil menyesatkan 70 ahli thoriqoh (zaman itu) dengan tipu daya seperti ini.”
Syaikh Abdul Qodir r.a berkata : “Hanya dari Allah segala anugerah dan pemberian.”
Ada seseorang yang bertanya kepada Syaikh Abdul Qodir: “Bagaimana kanjeng Syaikh mengetahui bahwasannya itu adalah syaitan?”
Syaikh Abdul Qodir ra menjawab: “Yaitu dari ucapannya: `telah aku halalkan untukmu segala yang di nash haram.` Sebab aku tahu bahwasannya Allah Ta’ala tidak akan pernah memerintahkan perbuatan yang keji dan mungkar.”
Dari kisah ini ada hikmah yang dapat kita ambil yaitu pada zaman itu (beberapa abad silam) syaitan telah berhasil menyesatkan 70 ahli thoriqoh dengan tipu dayanya dengan menghalalkan segala yang haram maka dari itu pada zaman sekarang kita harus lebih hati-hati dalam segala hal agar tidak terpedaya dengan jejak syaitan yang menyesatkan. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar berbuat adil dan ihsan (baik) dan bersilaturahim kepada kerabat dekat dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Semoga Allah senantiasa melindungi iman dan islam kita dalam menjalani kehidupan, dalam menghadapi kematian hingga setelah kematian, serta mendapat syafaat dari Rasulullah Muhammad saw . Amin ya robbal aalamiin.
(Kiriman tulisan dari Naima Hisyam)
Oleh: Yasir Maqosid, Lc
Rasulullah saw adalah seorang pribadi agung. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bukan dari hawa nafsunya, akan tetapi merupakan wahyu dari Allah swt. Apa yang diperintahkan oleh beliau merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, sedangkan apa yang dilarang beliau menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, apa yang dikatakan beliau tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, pasti akan menjadi kenyataan. Hal itu bukanlah sesuatu yang aneh mengingat kedudukan beliau yang sangat tinggi di sisi Allah.
Bagi umat Islam, hal-hal yang dikatakan beliau akan terjadi di masa mendatang haruslah diyakini kebenarannya dan benar-benar diperhatikan. Tujuannya supaya kita waspada terhadap kejadian-kejadian yang akan menimpa. Adapun apa yang diramalkan beliau di masa mendatang antara lain:
- Para Ahli Agama Banyak yang Meninggal Dunia
Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik dan ahli agama (para ulama) di muka bumi, Sehingga tiada tersisa melainkan orang-orang yang hina dan buruk yang tidak mengetahui perbuatan makruf dan tidak mengingkari kemungkaran.” (HR. Ahmad)
Mencermati hadits di atas, sudah semestinya kita menimba ilmu dari para ulama yang ilmunya dapat dipertanggungjawabkan, supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Sebab keberadaan ulama yang seperti ini semakin hari semakin langka. Dan jika sudah tidak ada lagi ulama yang dapat dipercaya maka umat akan berada dalam kesesatan dan tidak punya pegangan lagi. Selengkapnya
Kapan Kiamat..? 2012 kah?? Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Allah SWT berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: Kapankah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Al-A’raaf: 187]
Juga ketika Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya: “Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?” Kemudian Nabi SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” (HR.Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang tinggal di selatan Meksiko atau Guatemala yang dikenal menguasai ilmu Falak, disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Disebutkan juga pada waktu itu akan muncul gelombang galaksi yang besar-besaran sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.
Ramalan akan adanya kiamat pada 2012 dari suku Maya sebenarnya belum diketahui dasar perhitungannya. Tetapi isu ini sudah terlanjur menyebar luas lewat media elektronik maupun cetak yang hampir setiap hari kita jumpai. Bahkan divisualisasikan dengan dirilisnya film 2012, sehingga tanpa disadari itu akan menggiring opini untuk membenarkan terjadinya kiamat pada waktu itu. Ini propaganda yang sangat berbayaha terhadap keutuhan iman seorang mukmin.
Sebagai Muslim, kita hanya yakin bahwa kiamat ada dan pasti akan datang. Dan waktunya, kita tidak ada yang tahu, apalagi sampai menyebut tanggal, bulan dan tahun.
Tentang waktu, kapan kiamat terjadi, umat Islam hanya diberi tanda-tandanya. Bila tanda-tanda sudah ada, maka hari yang dimaksud memang sudah dekat. Umat Islam tidak ada yang boleh menyebut waktu, baik hari, tanggal, bulan maupun tahun. Sebab itu hak prerogatif Allah SWT. Selengkapnya
Oleh: Abdul Mun’im, S.Pd.I
Islam adalah agama yang sempurna, tetapi di sisi lain kita masih menyaksikan umat Islam mengalami keterbelakangan di berbagai lapangan kehidupan, bahkan. Kalau kita coba kait-kaitkan, maka akan kita ketemukan jawabannya. Yaitu terjadinya kesenjangan antara ajaran dengan amalan. Kita sering lupa dengan ajaran kita sendiri. Bagaimana bisa mengamalkan kalau ajarannya saja tidak tahu. Kalau kita coba telaah sejarah pendahulu kita, sungguh kesempurnaan Islam tergambar dari kontribusi umatnya bagi peradaban dunia kala itu. Maka ketika khalifah Umar bin Khattab r.a. mendengar turunnya ayat bahwa Islam sudah sempurna, yaitu ayat al-yauma akmaltu lakum dinakum (pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu) (QS. Al-Maidah: 5) Umar menangis. Peristiwa itu terjadi di padang Arafah sehabis Nabi SAW pidato, yang disebut pidato perpisahan. Nabi bertanya kepada Umar, “mengapa engkau menangis?” jawab Umar, sekarang agama kita sudah sempurna, dan sesuatu yang sempurna tidak bisa lagi ditambah, yang bisa dikurangi. Jadi setelah sempurna dengan sendirinya akan berkurang. Itu yang ditangisi Umar.
Sebab nanti yang terjadi ialah bahwa orang tidak lagi sesuai dengan standar. Kalau sudah mencapai puncak, ya begitu. Tapi kalau sudah mencapai puncak, yang ada ialah turun. Para sufi dan orang-orang zuhud, mereka justru merasa senang kalau mereka dalam keadaan susah, turun. Karena mereka yakin setelah susah ada kesenangan, setelah turun pasti akan naik.
Kenyataannya memang begitu, dan al-Qur’an sendiri juga mengisyaratkan tentang adanya hukum perputaran, yang disebut dawlah. Secara harfiah sebetulnya dawlah itu artinya perputaran. Ketika perkataan dawlah menghasilkan pengertian kekuasaan, maksudnya adalah giliran antara manusia. Roda nasib selalu berputar, kalau pada waktu perputaran roda itu berada diatas, maka menjadi penguasa, begitu juga sebaliknya. Al-Qur’an pun memberikan gambaran konkrit yaitu ketika orang-orang Islam kalah dalam perang Uhud, lalu Allah SWT memperingatkan, “in yamsaskum qarhun fa qad massa al-qawma qarhun mitsluhu, wa tilka al-ayyaamu nudaawiluha bayna al-naas.” Ini artinya bahwa kalau kita ditimpa penderitaan, mereka pun ditimpa penderitaan. Jadi seakan-akan yang sengsara cuma kita, padahal orang lain juga sama. Dan memang bahwa nasib itu berputar di antara umat manusia. Karena itu maka ada istilah, “al-harbu sijaalun, yawmun lana wa yawmun ‘alaina” (perang itu giliran, kadang-kadang kita menang, kadag-kadang kita kalah). Bahkan secara tegas Allah SWT menjajikan bahwa dibalik kesulitan, kesusahan, pendakian itu pasti ada kebagiaan, inna ma’al ‘usry yusra, fainna ma’al ‘usry yusra.
Namun kita ‘kan inginnya di atas terus, dan berusaha untuk selalu diatas. Ingin kaya dan selalu kaya. Ingin berkuasa dan selalu berkuasa. Dalam hal ini Islam tidak melarang bahkan malah menganjurkan. Namun yang harus selalu diingat adalah cara kita melanggengkan itu harus sesuai dengan tuntunan ajarannya yang telah digariskan dalam kitab suci al-Qur’an dan sunah Rasul. Terkadang kita juga inginnya yang instan. Cepat kaya, cepat berkuasa, sehinnga semuanya dianggap hijau, tidak mengindahkan rambu-rambu. sering mengabaikan tuntunan al-Qur’an dan tauladan Rasul. Nah, ini yang akan menjadi masalah. Kalau nantinya roda yang diatas itu bergerak kebawah. Maka kita sering tidak siap menghadapi kenyataan. Kadang-kadang sikapnya kepada Allah SWT sering egoisits dan cenderung menagih janji; “Ya Allah..saya sudah berusaha, saya sudah sembahyang kok masih hidup susah?” ini berarti ada sesuatu yang salah. Mestinya kita selalu berfikir positif terhadap segala ketentuan Allah SWT. Berfikiran positif kepada Allah SWT juga perlu kita latih. Maka dzikir yang dianjurkan setiap selesai shalat adalah subhanallah (Maha Suci Allah), tujuannya untuk menghapuskan pikiran negative kepada Allah SWT. Lalu diikuti dengan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) untuk menggantinya dengan pikiran positif.
Secara psikologis mudah sekali dianalisa bahwa orang yang selalu berfikir positif itu memang lebih punya energy, karena ada harapan. Ada pepatah Arab mengatakan: “alangkah sempitnya hidup ini kalau karena tidak lapangnya harapan.” Kita berani hidup karena ada harapan. Sesuatu yang tidak bisa kita peroleh sekarang mudah-mudahan besok, mudah-mudahan lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, akhirnya mudah-mudahan di akhirat.
Banyak berharap kepada Allah itu baik. Karena orang yang mempunyai harapan kepada Allah lalu menjadi tabah. Maka barangsiapa yang berharap akan akhirat, dunianya akan dapat. Tapi sebaliknya kalau hanya menghendaki dunia saja, akhiratnya akan jauh.
Berpikiran dan berprasangka positif ini penting sekali. Apalagi kalau kita sudah percaya dengan adanya sesuatu yang tidak lagi fisik (ghoib). Dalam al-Qur’an disebut adanya orang-orang yang pandai membaca isyarat. Paling tidak, kalau orang mau mengerti keadaan di sekitarnya, isyarat itu sebenarnya sudah cukup. Ada satu ungkapan Arab yang sangat terkenal yaitu,”al-‘abdu yudlrabu bil ‘asho wa al-khurru yakfiihi bi al-isyaarah “ (Budak dipukul dengan tongkat, orang merdeka cukup dengan isyarat.) Isyarat yang ditangkap itu tidak hanya isyarat-isyarat seperti huruf “S” dicoret (tidak boleh berhenti), tetapi isyarat yang jauh lebih tinggi. Karena itu Nabi SAW menegaskan, “kamu semua punya isyarat, coba tangkap isyarat itu, dan kamu semua punya tujuan akhir, kejar tujuan itu.” Karena itu seorang ahli ibadah yang sudah sampai kepada tingkatan itu kalau menerima musibah malah bersyukur. Kalau menerima kesusahan malah tersenyum, karena seolah-olah suatu isyarat dari Tuhan berupa “angsuran” bahwa nanti di akhirat berkurang tidak diadzab lagi.
Maka ada gerakan kesufian seperti misalnya Rabiah al-Adawiyah. Itu kan suatu gerakan protes social yang ditujukan kepada kemewahan . jadi umat Islam waktu itu mewah sekali, dan mewahnya adalah mewah abad pertengahan, barangkali sekarang merupakan skandal. Maka bagaimana pun keadaan kita, semuanya itu merupakan suratan taqdir yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tentunya setelah maksimalnya usaha kita. Karena pada hakikatnya yang membedakan seseorang dengan lainnya ya usahanya itu. Maka kalau kita buat skema akan muncul, usaha-harapan dan doa, sabar dan tawakkal, taqdir, dan diakhiri dengan syukur. Bagaimana pun hasilnya itulah yang terbaik buat kita. Wallahu a’lam bish showab.
(Tulisan dari jamaah)
Islam memulangkan kekuasaan kepada Allah semata, Yang Esa di dalam kekuasaan-Nya. Itulah tauhid, yang mengakui Tuhan hanya satu. Setelah itu memandang manusia sama derajatnya. Tidak ada kelebihan di anu dari si fulan, semuanya sama di sisi Tuhan; kelebihan seseorang dari yang lain hanyalah taqwa, budinya dan kecerdasan akalnya, bukan karena pangkat atau harta kekayaan. Tangan si lemah dibimbing sehingga beroleh kekuatan. Diambil dari tangan yang kuat dan kuasa sehingga tegaklah dan berimbang.
Inilah hidup yang dikehendaki Islam. Hidup seperti inilah yang dituntut dan dicari oleh ahli-ahli pikir yang insaf di dunia sekarang, inilah kehendak “Hak-hak asasi manusia.”
Hidup seperti inilah yang telah menghasilkan beribu-ribu orang mulia dalam Islam, yang hidupnya penuh guna dan manfaat. Tatkala kaum muslimin masih berpegang dengan budi pekerti agamanya, tatkala mereka mementingkan penyelidikan dalam perkara besar ini, merekalah “garam” dunia. Tidak enak “sambal” dunia kalau dia tidak tercampur dalamnya. Dialah tanah yang subur, tanaman yang menghasilkan buah berlipat ganda. Dialah sumber logam yang mahal. Dialah mata air ilmu pengetahuan yang tinggi. Selengkapnya
Islam mengajarkan pada umatnya untuk senantiasa melaksanakan shalat berjaamaah. Sebab, dengan berjamaah akan melahirkan banyak sekali hal-hal positif. Salah satunya adalah interaksi antara sesama kaum muslimin tanpa memandang status sosial. Dengan adanya interaksi seperti ini, banyak hal dapat dicapai, misalnya dapat bekerja sama dalam urusan dunia maupun akhirat, tercipta kepedulian antara satu sama lain, dan dapat tercipta masyarakat yang patuh terhadap ajaran-ajaran Islam.
Shalat berjamaah menurut mazhab Syafi’i hukumnya Fardlu Kifayah. Artinya apabila tidak ada seorang pun yang mendirikan jamaah dalam satu kampung, maka seluruh kampung mendapatakan dosa. Adapun keutamaan shalat berjama’ah antara lain:
1. Berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian.
Rasulullah saw bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar ra)
2. Setiap langkah diangkat kedudukannya satu derajat, dihapuskan satu dosa serta senantiasa dido’akan oleh para malaikat. Selengkapnya
Pada suatu hari ketika Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji, dia tertidur di Masjidil Haram. Dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit lalu yang satu berkata kepada yang lain, “Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?”. Jawab yang lain, “Enam ratus ribu.” Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima hajinya?” Jawab yang lain, “Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima berkat hajinya Muwaffaq.”
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq, sehingga sampailah ia ke rumahnya. Ketika pintu rumah diketuk, keluarlah seorang lelaki. Abdullah segera bertanya nama laki-laki itu. Laki-laki itu menjawab, “Muwaffaq.” Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, “Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai darjat yang sedemikian itu?” Muwaffaq menjawab, “Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak bisa karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus diirham dari pekerjaanku menambal sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini. Sementara itu isteriku sedang hamil. Suatu hari dia mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan menginginkan makanan itu. Aku lalu pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuanku yang sebenarnya kepada wanita tetanggaku itu. Wanita tetanggaku menjawab, “Terpaksa aku membuka rahasia ini. Sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba aku bertemu dengan bangkai himar (keledai) di suatu tempat, lalu aku potong sebagiannya dan kubawa pulang untuk dimasak. Makanan ini halal bagi kami (dalam kondisi darurat-red) tetapi haram untuk kamu.”
Ketika mendegar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada tetanggaku tadi seraya menyuruhnya membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam tanggungannya. “Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku.” Kata Muwaffaq lagi.
Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.
Oleh: Abdullah Al-Azhary
Muharram termasuk salah satu Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan Allah swt), yang mana di bulan tersebut disunahkan memperbanyak puasa. Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR Muslim)
Adapun tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut dengan nama Asyura. Kata Asyura berasal dari kata ‘Asyarah yang berarti sepuluh. Menurut sejarah, bangsa Arab sebelum Islam telah biasa menghormati bulan Muharram, dan lebih khusus lagi tanggal yang kesepuluh.·
Pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram) terjadi peristiwa bersejarah sebagai berikut: Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar; Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz; Kesembuhan Nabi Ya’kub dari kebutaan dan ia dibawa bertemu dengan Nabi Yusuf pada hari Asyura; Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal; dan Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun.
Pada mulanya, dalam puasa Asyura ini Rasulullah hanya menganjurkan pada tanggal 10 Muharram saja. Tetapi, ketika diberitahukan bahwa kaum Yahudi juga berpuasa pada hari itu, maka kemudian beliau berkeinginan menambah sehari sebelumnya. Namun belum sempat beliau berpuasa pada tanggal 9 dan 10, beliau telah wafat. Meskipun demikian beliau telah memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, “Berpuasalah pada tanggal 9 dan 10, dan berselisihlah dengan kaum yahudi.” (HR. At-Tirmidzi)
Adapun keutamaan puasa di Hari Asyura adalah dapat menghapus dosa satu tahun yang silam. Rasulullah saw bersabda, “Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah untuk menghapus (dosa-dosa) setahun yang lampau.” (HR Muslim)
Selain berpuasa, sudah menjadi tradisi di Hari Asyura masyarakat melaksanakan santunan terhadap anak yatim. Tradisi seperti ini tentu baik untuk dilakukan, tetapi lebih baik lagi jika menyantuni anak yatim tidak hanya pada Hari Asyura` saja.
Dalam sebuah riwayat -yang tidak diketahui keshahihannya- disebutkan bahwa: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura’ yakni 10 Muharram, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala 10.000 malaikat; dan barangsiapa yang puasa pada hari Asyura’, maka akan diberikan pahala 10.000 orang Haji dan Umrah, dan 10.000 orang mati syahid; Dan siapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura’, maka setiap helai rambut yang dibelai Allah akan menaikkan satu derajat dari orang itu. Dan barangsiapa yang memberi buka puasa orang mukmin yang berpuasa pada hari Asyura’, maka seoleh-oleh memberi buka puasa semua umat Muhammad SAW. dan mengenyangkan perut mereka”
|
|